Oleh: ismailku | 3 September 2009

Herpes Menghantu Petani KJA Jatiluhur

By Republika Newsroom
Selasa, 01 September 2009 pukul 18:11:00

PURWAKARTA–Ratusan pembudidaya ikan Kolam Jaring Apung (KJA) Waduk Jatiluhur Kab Purwakarta, saat ini tengah resah. Pasalnya, saat ini air Waduk Jatiluhur terindikasi sudah terkontaminasi Koi Herpes Virus (KHV). Virus ini, bisa menyebabkan kematian ikan secara massal.

Ketua Himpunan Pembudidaya Ikan (Hipni) KJA Waduk Jatiluhur, Darwis, mengatakan, virus tersebut selalu menyerang secara sporadis disaat musim kemarau seperti sekarang ini. Tak jarang, bisa berimbas kematian ikan secara massal tanpa dapat dicegah.

Kekhawatiran para pembudidaya ikan saat ini, kata Darwis, sangatlah beralasan. Karena, sekitar Bulan Juni lalu, virus tersebut mulai menyerang ribuan ikan. Sehingga, saat ini secara terus menerus terjadi kematian massal, mencapai ratusan ton.”Akibat kematian massal ini, pembudidaya harus menderita kerugian yang cukup besar,” kata Darwis, Selasa (1/9).

Dikatakan Darwis, kematian ikan yang terjadi dua bulan lalu dinilai cukup parah. Karena, ikan yang berada di 16 ribu kolam yang ada, hampir semuanya mengalami kematian. Ditaksir, kematian ikan itu mencapai ratusan ton. Disebutkan Darwis, ancaman bagi usaha budidaya ikan ini, selain arus balik (umbalan) ketika musim hujan, juga disaat musim kemarau, yakni serangan viru sherpes.”Virus ini datangnya tidak bisa diprediksi. Tahu-tahu ikan banyak yang mati,” ujarnya.

Untuk mencegah penularan virus lebih luas, para pembudidaya japung sudah mulai melakukan
penjarangan penanaman. Artinya, setiap kolam terjadi pengurangan jumlah ikan yang ditanam. Cara seperti ini dinilainya cukup efektif bisa memangkas mata rantai penularan. Akan tetapi, resiko yang dihadapi pembudidaya terjadi penurunan produksi dari kondisi normal.

Saat ini, secara akumulasi hasil produksi ikan air tawar Waduk Jatiluhur hanya sekitar 10 ton per hari. Padahal, bila tak gangguan, kata Darwis, hasil produksi itu bisa lebih dari 20 ton per hari. Apalagi, bila permintaan pasar cukup tinggi. Maka, kata dia, sekarang ini selain dihatui serangan virus herpes, juga terjadinya penurunan permintaan pasar.

”Secara otomatis hal ini berpengaruh pada harga ikan yang kami jual,” ujarnya. Ditanya soal harga, Darwis mengaku, saat Ramadan ini untuk ikan tidak mengalami lonjakan yang berarti. Misalnya, harga ikan mas hanya Rp 13.000 per kilogram, ikan nila Rp 7.800 per kilogram, dan ikan patin Rp 6.000 per kilogram. Bahkan, harga ikan mas pernah mengalami titik terendah sampai menembus harga Rp10.000 per kilogram.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Purwakarta, Herry Herawan menjelaskan, serangan KHV atau virus herpes, memang bersifat missal. Gejala penularan virus ini, dapat terlihat dengan munculnya borok-borok disetiap kulit ikan. Tak hanya itu, virus ini menyebabkan keringnya lendir diatas sisik. Bila ikan sudah memiliki ciri-ciri seperti itu, biasanya tak bisa bertahan lama.”Serangan virus ini sangat ganas. Ikan yang terinfeksi virus ini, dalam hitungan menit bisa langsung mati,” ujar Herry.

Dikatakan dia, penanganan serangan virus herpes ini sebenarnya sangat mudah. Diantaranya, ikan yang ditanam menggunakan pola penjarangan. Artinya, setiap pembudidaya harus mengurangi jumlah ikan yang ditanam. Supaya, siklus serangan virus herpes bisa terputus seiring dengan tak adanya ikan. Selain itu, ikan bisa diberi vitamin C. Dengan begitu, penularan lebih luas dapat dicegah secara maksimal.win/kp


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: