Oleh: ismailku | 22 Juli 2009

Benih ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus)

Benih ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas benih sebar

SNI : 01- 6483.4 – 2000
Standar Nasional Indonesia




Pendahuluan

Standar produksi benih ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus) kelas benih sebar disusun sebagai upaya meningkatkan jaminan mutu (quality assurance) mengingat produk ini banyak diperdagangkan serta mempunyai pengaruh terhadap mutu produk benih yang dihasikan sehingga diperlukan persyaratan teknis tertentu.

Standar produksi benih ikan patin siam kelas benih sebar diterbitkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) sebagai pihak yang berwenang mengkoordinasikan standar sesuai dengan Keppres RI No. 13 tahun 1997. Standar produksi benih ikan patin siam kelas benih sebar dimaksudkan untuk dapat dipergunakan oleh produsen benih, penangkar dan instansi yang memerlukan serta digunakan untuk pembinaan mutu dalam rangka sertifikasi.

1 Ruang lingkup

Standar produksi benih ikan patin siam kelas benih sebar meliputi : definisi, istilah dan persyaratan produksi serta cara pengukuran dan pemeriksaan.

2 Acuan

Penyusunan standar produksi ikan patin siam kelas benih sebar ini menggunakan acuan dari :

  1. Keputusan Menteri Pertanian No. 26/Kpts/OT.21 0/1/98 tentang Pedoman Pengembangan Perbenihan Perikanan Nasional dalam konsiderans.
  2. Pedoman penulisan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional (Pedoman 8 tahun 2000).
  3. Data dan informasi teknis dari pihak dan instansi terkait yaitu Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan (Puslitbangkan), Perguruan Tinggi, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan.
  4. Hasil penelitian dan perekayasaan produksi benih ikan patin siam UPT Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dan UPT Direktorat Jenderal Perikanan.

3 Definisi

Produksi benih Ikan patin siam kelas benih sebar ukuran larva, benih ukuran 0,75 inci. benih ukuran 1 inci -2 inci, dan benih 2 inci -3 inci, adalah suatu rangkaian pra produksi, proses produksi dan pemanenan untuk menghasilkan benih ikan patin siam kelas benih sebar (SNI 01-6483.2-2000).

4 Istilah

a)    Pra produksi adalah persyaratan yang harus dipenuhi dalam memproduksi benih ikan patin siam kelas benih sebar yang terdiri dari persyaratan : lokasi, sumber air sarana (wadah, induk dasar, bahan dan peralatan).

b)    Proses produksi adalah persyaratan yang harus dipenuhi dalam rangkaian kegiatan untuk memproduksi benih ikan patin siam kelas benih sebar.

c)    Pemanenan adalah persyaratan yang harus dipenuhi dalam kegiatan tahap akhir

proses produksi benih ikan patin siam kelas benih sebar larva, benih ukuran 0,75 inci, benih ukuran 1inci -2 inci dan 2 inci -3 inci.

d)     Benih sebar adalah benih keturunan pertama dari induk pokok, induk dasar atau induk penjenis yang memenuhi standar mutu kelas benih sebar.

e)    Benih sebar ikan patin, kelas benih sebar terdiri dari larva (ukuran 0,1 inci – 0,2 inci), benih ukuran 0,75 inci, benih ukuran 1,0 inci – 2,0 inci, dan benih ukuran 2,0 inci – 3,0 inci yang berasal dari induk pokok dan telah teruji keunggulannya serta siap untuk disebarluaskan kepada petani/pengguna.

f)       Induk Pokok (Parent Stock, PS) adalah induk keturunan pertama dari induk dasar.

g)     Sintasan adalah persentase jumlah ikan yang hidup pada saat panen dari jumlah ikan yang ditebar.

h)     Pemijahan adalah rangkaian kegiatan pengeluaran telur dari induk betina dan sperma dari induk jantan.

i)       Pendederan pertama (PI) adalah pemeliharaan dari tingkat larva ukuran 0,1 inci – 0,2 inci sampai ketingkat benih ukuran 0,75 inci.

j)       Pendederan kedua (PII di akuarium/bak) adalah pemeliharaan benih dari tingkat ukuran 0,75 inci sampai ketingkat benih ukuran 1 inci -2 inci.

k)      Pendederan kedua (PII dikolam) adalah pemeliharaan benih dari tingkat benih ukuran 0,75 inci sampai ke tingkat benih ukuran 2 inci -3 inci.

5. Persyaratan Produksi

5.1. Pra Produksi

5.1.1. Lokasi

a)     Kawasan Perkolaman : dekat dengan sumber air dan tersedia cukup sesuai kebutuhan, mudah dikontrol, sarana transportasi lancar.

b)     Tanah dasar : liat berpasir.

c) Peruntukkan lokasi tidak tumpang tindih dengan pertanian. 5.1.2. Sumber air

a)    Tidak tercemar oleh cemaran fisik, kimia dan biologis dari alam, industri pemukiman dan pertanian.

b)    Kuantitas air mencukupi kebutuhan dan tersedia sepanjang tahun.

c)    Adanya saluran pemasukan dan pembuangan air yang terpisah.

5.1.3. Wadah

a)    Wadah inkubasi induk : hapa,kolam, atau bak sesuai kebutuhan

b) Wadah penetasan telur : akuarium, dan fibre glass.

c) Wadah pendederan I : akuarium, atau fibre glass

d)    Wadah pendederan II di akuarium/bak: akuarium, bak kayu, atau bak beton

e)    Wadah pendederan II di kolam : kolam tanah

5.1.4. Induk :

Induk ikan patin siam sesuai dengan SNI 01-6483.1-2000

5.1.5. Bahan

a) Pakan        :

–     Pakan induk : pakan buatan dengan kandungan protein : 28% – 35%.

–     Pakan benih sampai umur 15 hari : nauplii Artemia sp, dan Tubifex sp hidup.

–     Pakan benih dari umur 15 hari sampai 36 hari (di akuarium/bak) : Tubifex sp hidup dan pakan buatan protein 35%.

–     Pakan benih dari umur 15 hari sampai 45 hari (di kolam): pakan buatan dengan kadar protein min 28 % dan pakan alami (Moina sp dan Daphnia sp yang ditebar pada waktu persiapan kolam).

b)    Pupuk organik : pupuk kandang.

c)    Pupuk anorganik: Urea dan TSP

d)    Kapur: kapur tohor (CaO).

e)    Bahan kimia dan obat-obatan : hormon gonadotropin, hormon antidopamin, kelenjar hypofisa, natrium klorida, larutan sera, alkohol, desinfektan dan antibiotik (bila diperlukan).

5.1.6. Peralatan.

a) Pemijahan, penetasan dan pemeliharaan larva

  1. Peralatan kawin suntik.
  2. Peralatan pengukuran kualitas air : termometer, pH meter, dan DO meter.
    1. Peralatan lapangan : ember, waskom, gayung, selang plastik, saringan serok, timbangan, jaring penangkap induk, hapa inkubasi induk dan lain-lain.
  3. Peralatan aerator/blower dan instalasinya, listrik.

b) Pendederan II (akuarium/ bak dan dikolam)

  1. Peralatan pengukuran kualitas air : termometer, pH meter, dan DO meter.
    1. Peralatan lapangan : ember, waskom, saringan serok, lambit, waring, cangkul, hapa penampungan benih, timbangan dan lain-lain.

5.2. Proses produksi

5.2.1. Pemijahan buatan

a)    Kualitas air inkubasi induk.

  1. Suhu                         : 29°C – 31°C
  2. Nilai pH                     : 6,5 – 8,5
  3. Oksigen terlarut       : > 4 mg/l

b)    Penyuntikan induk

  1. Induk-induk yang terpilih diberok dalam hapa penampungan selama satu hari.
    1. Seleksi induk siap pijah dengan pengecekan kualitas telur dengan menggunakan kanulator (kateter).
    2. Penyuntikan hormon (Tabel 1).

Tabel 1 Jenis dan dosis hormon, interval waktu penyuntikan dan waktu ovulasi
dalam pemijahan buatan ikan patin siam

No

Jenis hormon

Dosis

total

Penyuntikan

Interval waktu

penyuntikan

Waktu ovulasi

I

II

1 Antidopamin

0,5 cc/kg

1/3

2/3

6 jam

6 – 8 jam

1. HCG

3.000.IU

1/3

2/3

6 jam

6 – 8 jam

2. Kelenjar

Hipofisa

3 –4

1/3

2/3

6 jam

6 – 8 jam

5.2.2. Penetasan Telur

a) Kualitas Air media penetasan telur.

1. Suhu : 27°C – 30°C
2. Nilai pH :  6,5 – 8,5
3. Oksigen terlarut : >5 mg/l
4. Ketinggian air : 25 cm – 30 cm

b)    Penetasan telur.

  1. Padat penebaran telur : 6 butir /cm² – 10 butir /cm²
  2. Lama penetasan telur : 20 jam – 26 jam

c)    Panen larva

Panen larva dilakukan 6 jam- 8 jam setelah menetas dengan cara disiphon kemudian ditampung dalam ember.

5.2.3. Pendederan benih di PI

a)    Kualitas air media pendederan benih

  1. Suhu                            : 27°C – 30°C
  2. pH                                 : 6,5 – 8,5
  3. Oksigen terlarut          : > 5 mg/l
  4. Ketinggian air             : 20 cm – 50 cm

b)    Teknik Pemeliharaan larva (PI)

  1. 1. Wadah yang digunakan berupa akuarium, atau fibre glass.
  2. Persiapan wadah (sanitasi), dan pemasangan perlengkapan aerasi.
  3. Larva ditebar dalam akuarium/fibre glass dengan kepadatan 40 ekor/liter.
    1. Jumlah naupli Artemia dan Tubifex hidup yang diberikan dapat dilihat pada Tabel 2.

c)    Penggunaan Bahan

  1. Penggunaan pakan : pakan alami (naupli Artemia sp, dan Tubifex sp hidup) lihat Tabel 3.
  1. Penggunaan desinfektan untuk sterilisasi dan antibiotik (jika diperlukan)
  2. EDTA : menghilangkan kandungan logam pada air 2 mg/l – 10 mg/l.

5.2.4 Teknik Pendederan Benih di P II

a) Kualitas air media pemeliharaan benih di P II, sesuai Tabel 2.

Tabel 2 Kualitas air media pendederan benih di P II

No

Parameter

Satuan

Kisaran

P II di

akuari u m/bak

P II di kolam

1

Suhu

oC

27 – 30

25 – 30

2

PH

6,5 – 8,5

6,5 – 8,5

3

Oksigen terlarut

mg/l

>5

>5

4

Ketinggian air

cm

20 – 30

80 – 90

b) Teknik pemeliharaan benih

  1. Wadah yang digunakan untuk pendederan benih ukuran sedang (di PII) berupa akuarium, bak kayu atau beton dan benih ukuran besar (P II) berupa kolam tanah.
  2. Persiapan wadah (sanitasi), dan perlengkapan aerasi untuk P II di akuarium atau bak, sedangkan persiapan untuk P II kolam tanah meliputi pengolahan tanah dasar, penjemuran, pengapuran dan pemupukan serta pengisian air.
  3. Benih ditebar dalam akuarium/bak kayu dengan kepadatan 20 ekor/liter sedangkan padat penebaran dikolam tanah adalah 40 ekor/m2.
  4. Untuk menjaga kualitas air tetap baik dilakukan penyiponan kotoran (P II akuarium atau bak) dan penggantian air sebanyak 50% – 60 % setiap 2 hari, sedangkan untuk P II kolam tanah pergantian air sebanyak 20% – 30 %/hari ( tergantung kualitas air).

c) Penggunaan Bahan.

  1. Penggunaan pakan
  2. Penggunaan obat-obatan
  3. Penggunaan kapur
  4. Penggunaan pupuk organik
  5. Penggunaan pupuk anorganik

: lihat Tabel 3.

: Formalin 10 ppm-25 ppm (hanya untuk P II di akuarium/bak.

: lihat Tabel 4 : lihat Tabel 4 : lihat Tabel 4

Tabel 3 Jumlah penggunaan pakan untuk pendederan benih P I
(untuk benih 100 000 ekor)

Hari ke

Jenis Pakan

Nauplii Artemia sp

(g)*

Tubifex sp hidup

(liter)

1

2

3,2

3

6,4

4

8,3

5

13,3

6

20,0

7

26,6

1,0

8

29,3

1,0

9

1,0

10

1,5

11

1,5

12

1,5

13

2,0

14

2,0

15

2,0

*) Jumlah cyste Artemia yang ditetaskan, dengan daya tetas 80 %

Tabel 4 Proses produksi benih ikan patin siam pada setiap tingkat
pemeliharaan

No

Uraian

Satuan

P I

P

II

Akuarium

atau bak

Kolam

tanah

1

Pupuk organik

g/m2

500 – 1000

Pupuk       anorganik

(urea, TSP)

g/m2

20 – 50, 10 –

25

2

Kapur

g/m2

25 – 100

3

Ukuran benih

Inci

0,1 -0,2

0,75

0,75

4

Padat tebar benih di

P I dan P II

ekor/l

ekor/m2

40

20

40

5

Jenis pakan

Artemia+

Tubifex

hidup

Tubifex

hidup +

Pakan

buatan

Pakan

buatan

6

Pakan

% bobot

biomas

20

7

Frekuensi

pemberian pakan

kali/hari

5

4

3

8

Waktu

pemeliharaan

hari

15

21

30

9

Sintasan

%

50

85

80

10

Ukuran panen

inci

0,75

1 – 2

2 – 3

5.3 Pemanenan

5.3.1. Sintasan

a)    Benih pada P I                : lihat Tabel 4.

b)    Benih pada P II               : lihat Tabel 4.

5.3.2. Ukuran panjang total dan bobot benih yang dipanen

a)    Benih pada P I sesuai dengan SNI 01 -6483.2-2000

b)    Benih pada P II akuarium/bak sesuai dengan SNI 01 -6483.2-2000

c)    Benih pada P II kolam tanah sesuai dengan SNI 01-6483.2-2000

6          Cara pengukuran dan pemeriksaan

6.1. Cara mengukur suhu

Cara mengukur suhu air dilakukan dengan menggunakan termometer yang dinyatakan dalam satuan °C. Pengukuran suhu air dilakukan dipermukaan air dan dasar wadah ( untuk P II kolam tanah ), pengukuran dilakukan dengan frekuensi dua kali yaitu pagi dan sore hari.

6.2. Cara mengukur oksigen terlarut

Cara mengukur oksigen terlarut dengan menggunakan DO-meter, pengukuran oksigen air dilakukan di permukaan air dan dasar wadah ( untuk P II kolam tanah ), pengukuran dilakukan dengan frekuensi dua kali yaitu pagi dan sore hari.

6.3. Cara mengukur pH air

Cara mengukur pH air dilakukan dengan menggunakan pH meter atau pH indikator.

6.4. Cara mengukur debit air

Cara mengukur debit air dilakukan dengan mengukur volume air kedalam wadah penampungan dibagi waktu yang dibutuhkan dalam satuan liter per detik.

6.5. Cara mengukur ketinggian air

Cara mengukur ketinggian air dilakukan dengan mengukur jarak antara dasar wadah pemeliharaan sampai ke permukaan air, menggunakan meteran atau alat sejenis dalam satuan centimeter.

6.6. Cara mengukur kecerahan air

Cara mengukur kecerahan air dilakukan dengan menggunakan piringan berwarna putih bergaris hitam yang diberi tali atau tangkai dan dimasukkan ke wadah pemeliharaan dan ukuran kecerahan dinyatakan dengan mengukur jarak antara permukaan air dengan batas piringan yang tampak jelas dalam satuan centimeter.

6.7. Cara menentukan jumlah penggunaan bahan

6.7.1. Cara menentukan jumlah pakan

Cara menentukan jumlah pakan dilakukan dengan menghitung bobot rata-rata ikan (minimal dari 30 ekor ikan sampel) dikalikan jumlah populasi ikan yang ditanam dilkalikan persentase tingkat pemberian pakan yang telah ditetapkan dalam satuan

gram atau kilo gram.

6.7.2. Cara menentukan jumlah pupuk

Cara menentukan jumlah pupuk adalah dosis pupuk per meter persegi dikalikan luas wadah pemeliharaan yang dinyatakan dalam satuan gram atau kilo gram.

6.7.3. Cara menentukan jumlah kapur

Cara menentukan jumlah kapur adalah dosis kapur per meter persegi dikalikan luas wadah pemeliharaan yang dinyatakan dalam satuan gram atau kilo gram.

6.7.4. Cara menentukan padat tebar benih

Cara menentukan padat tebar benih adalah perkalian antara jumlah benih yang ditebar per satuan meter persegi dikalikan luas wadah pemeliharaan atau total volume air.

6.7.5. Cara mengukur panjang total benih

Cara mengukur panjang total benih dilakukan dengan mengukur jarak antara ujung mulut sampai dengan ujung sirip ekor menggunakan jangka sorong atau penggaris yang dinyatakan dalam satuan centimeter atau milimeter.

6.7.6. Cara mengukur bobot benih

Cara mengukur bobot benih dilakukan dengan menimbang benih menggunakan timbangan analitik yang dinyatakan dalam satuan gram atau miligram.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: