Oleh: ismailku | 23 Juli 2009

PEMANFAATAN LIMBAH SAWIT UNTUK BAHAN PAKAN IKAN

PEMANFAATAN LIMBAH SAWIT UNTUK BAHAN PAKAN IKAN
A. Hadadi, Herry, Setyorini, A.Surahman, E. Ridwan
Abstrak

Dewasa ini permintaan terhadap produksi perikanan budidaya guna memenuhi gizi masyarakat semakin meningkat. Konsumsi ikan penduduk Indonesia dari tahun ke tahun mengalami kenaikan sekitar 4,6% pada tanuh 2003. Disamping itu, adanya wabah flu burung pada unggas pada tahun 2006 menjadikan ikan sebagai sumber protein hewani yang cukup aman dikonsumsi. Kenaikan konsumsi ikan oleh masyarakat tersebut berpengaruh sangat besar terhadap kenaikan produksi ikan mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Dengan meningkatnya produksi ikan terutama ikan budidaya maka secara otomatis akan terjadi kenaikan permintaan pakan.

Untuk menghasilkan pakan yang bermutu maka ketersediaan bahan baku harus tetap terjaga secara kualitas dan kuantitas. Disamping itu, bahan baku ini harus mudah diperoleh, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, ekonomis dan tersedia sepanjang waktu.

Limbah dan hasil ikutan industri pertanian seperti Bungkil kelapa sawit (BKS) merupakan sum ber baku pakan yang cukup banyak tersedia di Indonesia. BKS dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku pakan dengan berbagai perlakuan agar dapat dimanfaatkan oleh ikan.

Ada dua teknik yang diujicoba dalam perekayasaan ini, yaitu fermentasi BKS aplikasi pada ikan nila dengan tiga pelakuan pakan A (30% BKS fermentasi); pakan B (30% BKS); pakan C (30% bungkil kedelai) dan kultur maggot dari BKS aplikasi pada ikan lele dumbo dengan tiga perlakuan pakan I (100% maggot); pakan I (50% maggot + 50% pakan formula lele); pakanI (100% pakan formula lele. Masing-masing perlakuan dihitung nilai Survival Rate (SR), Feed Conversion Radio (FCR), Spesific Growth Rate (SGR) dan persentase pertambahan berat badan ikan (%W).

Dari hasil perekayasaan ini di dalam hasil pengujian fermentase BKS pada ikan nila untuk pakan A (SR= 68,8%; FCR= 2,76 ; 7,02% ; %W=138%); pakan B (sr=72,10% ; FCR= 2,19 ; SGR= 7,49% ; %W= 179%); pakan C (SR= 77,03% ; FCR= 1,82 ; SGR= 7,83% ; %W= 222%). Sedangkan hasil pengujian maggot pada ikan lele dumbo pakan I (SR= 82,38% ; FCR= 1,62 ; SGR= 18,22% ; %W= 319,89%); pakan I (SR= 77,50% ; FCR= 1,16 ; SGR= 18,46% ; %W= 335,09%); pakan I (SR= 63,70% ; FCR= 1,16 ; SGR= 18,46% ; %W= 335,09%) ; pakanI (SR= 63,70% ; FCR= 1,42 ; SGR= 18,08% ; %W= 261,25%). Pengujian ikan nila yang beri formulasi paka B relatif lebih baik dari pakan C bila dilihat nilai SR, FCR, SGR, %, tetapi masih lebih kecil dari pakan C yang digunakan sebagai kontrol. Namun perekayasaan ini sudah mengindikasi bahwa BKS dapat dijadikan sebagai bahan baku pakan ikan. Pengujian ikan lele dumbo yang diberi pakan I mempunyai FCR lebih baik dibandingkan dengan pakan I danI. Hal ini menunjukan bahwa pemberian pakan campuran antara maggot 50% dengan pakan formulasi mempunyai pengaruh yang positif.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dewasa ini permintaan terhadap produk perikanan budidaya guna memenuhi gizi masyarakat semakin meningkat. Konsumsi ikan penduduk Indonesia pada tahun 2002-2003 mengalami kenaikan sekitar 4,6%, yaitu dari 21,57 kg/kapita/tahun menjadi

24,67 kg/kapita/tahun. Kenaikan ini berpengaruh sangat besar terhadap kenaikan produksi ikan mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Dengan meningkatnya produksi ikan

terutama ikan budidaya maka secara otomatis akan terjadi kenaikan permintaan pakan.

Namun permintaan pakan yang cenderung semakin tinggi sejalan dengan makin intensifnya kegiatan budidaya, ternyata tidak diikuti dengan meningkatnya penyediaan bahan baku, terutama tepung ikan. Produksi tepung ikan dunia dalam lima tahun terakhir kecenderungannya tetap, sehingga perlu dicari alternatif penyediaan bahan baku selain tepung ikan. Khususnya untuk di Indonesia, ternyata hampir sebagian besar bahan baku pakan berasal dari impor, yaitu sebesar 70-80%. Terdiri dari tepung

ikan, bungkil kedelai dan jagung. Oleh karenanya mencari bahan baku lokal merupakan suatu kemestian.

Untuk menghasilkan pakan yang bermutu maka ketersediaan bahan baku harus tetap terjaga secara kualitas dan kuantitas. Disamping itu, bahan baku ini harus mudah diperoleh, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, ekonomis dan tersedia sepanjang waktu.

Limbah dan hasil ikutan industri pertanian adalah sumber baku pakan yang cukup banyak tersedia. Bungkil kelapa sawit (BKS), merupakan hasil ikutan industri minyak kelapa sawit, yang telah umum dimanfaatkan sebagai sumber bahan pakan, namun bahan pakan tersebut mempunyai faktor pembatas, yaitu kandungan serat yang cukup tinggi dan kualitas protein yang kurang baik, sehingga perlu diolah agar lebih bermanfaat bagi pembudidaya ikan.

Fermentasi oleh jamur dan biokonversi BKS menjadi magot, merupakan salah satu pengolahan bahan pakan tersebut. Aktivitas dari jamur memungkinkan terjadinya perombakan terhadap komponen bahan yang sulit dicerna, sehingga terjadi peningkatan nilai manfaat dari zat-zat makanan produk pengolahan dibandingkan bahan asalnya. Demikian pula halnya dengan biokonversi menjadi produk biologis, yang merupakan sumber protein hewani.

Trichoderma sp adalah jamur yang dapat melakukan proses perombakan pada bahan yang berserat tinggi. Jamur ini mempunyai sifat selulolitik yaitu merombak selulosa menjadi sellubiosa yang akhirnya menjadi glukosa. Serat kasar BKS dapat diuraikan oleh jamur Trichoderma sp, hal ini akan merubah susunan ikatan zat-zat makanan BKS, sehingga kemungkinan akan mudah dicerna oleh ikan.

Berdasarkan hasil penelitian Ng et al. (2004), BKS yang difermentasi oleh Trichoderma koningii, menghasilkan peningkatan kandungan protein kasar,

yaitu dari 17% menjadi 32%. Penelitian tentang penggunaan BKS sebagai pakan telah dilakukan oleh Ng dan Chen (2002) pada ikan lele, hasilnya pemberian BKS sebanyak 20% dalam pakan tidak berpengaruh negatif pada pertumbuhan. Namun pemberian 40% dengan ditambahakan asam amino L – methionin 1,2% menjadikan lambat pertumbuhannya. Hal ini mengindikasikan bahwa methionin bukan satu-satunya limiting factor asam amino esensial dalam BKS, namun perlu ada kombinasi dengan asam amino esensial lainnya.

Pada tahun 2005, BBAT Sukabumi telah melakukan rekayasa kultur magot dari BKS, hasilnya positif magot dapat diproduksi dengan menggunakan media kultur BKS yang sudah difermentasi. Dari ujicoba pendahuluan hampir semua ikan air tawar menyukai magot sebagai sumber makanan. Pada benih ikan baung yang diberi pakan magot, cacing rambut dan pakan komersial menunjukkan pengaruh yang sama. Pada ikan lele dan ikan patin kombinasi pemberian pakan buatan komersial dengan magot menunjukkan pertumbuhan dan efisiensi pakan yang terbaik dibandingkan dengan pemberian magot atau pakan buatan komersial saja.

Berdasarkan dari permasalahan dan hasil ujicoba sebelumnya, maka akan dilakukan perekayasaan pemberian BKS dan BKS fermentasi pada pembesaran ikan nila serta pemberian magot sebagai pakan dalam usaha pembesaran ikan lele dumbo. Dari hasil rekayasa ini diharapkan akan diperoleh pakan yang murah guna mendukung usaha budidaya ikan nila dan lele dumbo.

Tujuan

Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan pakan murah dari bahan baku limbah sawit guna mendukung dalam usaha pembesaran ikan nila dan ikan lele dumbo.

Target

Diperoleh teknologi tepat guna dalam penyediaan pakan ikan dengan menggunakan bahan baku lokal, sehingga tersedia pakan yang mudah didapat, harganya murah dan kontinyuitas terjamin.

METODOLOGI Waktu dan Tempat

Waktu dan tempat pelaksanaan pada bulan Januari-Desember 2006 di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar

Bahan dan Metode Limbah Sawit

Limbah sawit yang dimaksud adalah bungkil kelapa sawit (BKS) yang merupakan hasil ikutan atau limbah dari pembutan minyak kelapa sawit. Komposisi kimianya sangat bergantung pada keadaan buah dan biji yang digunakan dalam proses pengolahan minyak kelapa sawit. BKS ini merupakan salah satu yang biasa digunakan dalam ransum untuk ternak, seperti sapi, kuda dan babi. BKS ini mudah menjadi tengik, terlebih apabila masih mengandung banyak lemak. Secara kimiawi BKS ini memiliki kandungan protein berkisar 17%, kandungan lisin dan methionin relatif rendah dibandingkan dengan sumber protein nabati lainnya, serat kasar tinggi dan kemungkinan sulit dicerna oleh ikan.

Proses Fermentasi

Untuk meningkatkan kualitas BKS dilakukan proses fermentasi. Dari kegiatan ini diharapkan kandungan seratnya dapat dirombak ke dalam bentuk yang lebih sederhana sehingga dapat dicerna oleh ikan, kandungan proteinnya dapat meningkat. Dalam proses fermentasi ini akan menggunakan sumber mikroba dan enzim fermentasi dari isi perut hewan ruminansia, yaitu dari isi perut domba atau sapi.

Isi perut tersebut disaring, diambil cairannya kemudian dicampur dengan bungkil sawit. Jumlah cairan bibit fermentasi sekitar 10-30%. Campuran bahan tersebut kemudian ditambahkan air agar proses pengadukannya merata dan selanjutnya dimasukkan dalam tong plastik. Untuk mempertahankan suhu media, lingkungan disekitarnya dilengkapi dengan sekam padi. Selama proses fermentasi dilakukan pengecekan terhadap suhu dan pH media yang dilakukan pada awal, pekanan dan akhir proses fermentasi. Lama proses fermentasi ini berkisar 3-4 minggu.

Kultur Magot

Magot merupakan salah proses biokonversi, dari bahan organik nabati dirubah menjadi organik hewani dengan kandungan protein cukup tinggi. Magot yang dibudidaya berasal dari larva insekta black solder, Hermetia illucens. Insekta ini banyak ditemukan dari daerah tropis hingga subtropis. Ukuran dewasa hidup ditanaman rerumputan dan sari bunga sebagai sumber makanannya.

BKS fermentasi disimpan dalam wadah jolang, fibre glas atau bak semen, ditebar secara merata. Dalam tempo seminggu biasanya sudah ditemukan larva magot. Larva tersebut bisa dipelihara dalam wadah sebelumnya atau dikumpulkan untuk dipelihara dalam wadah lain, dengan setiap hari diberi makanan berupa BKS fermentasi. Magot usia 10-14 hari sudah bisa dipanen. Caranya dengan cara memisahkan magot dari substrat, kemudian dicuci. Magot ini bisa dilangsung diberikan ke ikan sebagai pakan, disimpan dalam freezer atau dibuatkan dalam bentuk tepung.

Ikan Uji

Ikan uji yang digunakan untuk mencoba pakan dengan munggunakan BKS dan BKS fermentasi adalah ikan nila. Ikan ini berasal dari ikan yang dikembangkan di masyarakat. Ukuran awal ikan nila berkisar 20-50 g/ekor.                                Sedangkan untuk menguji

magot sebagai pakan digunakan ikan lele dumbo, dengan ukuran awal 10-20 g/ekor. Asal benih untuk ikan nila dan lele dumbo berasal dari para pembuidaya yang berkembang di masyarakat, dengan maksud agar secara genetis tidak ada perbedaan antara ikan uji dengan ikan yang dikembangan oleh para pembudidaya sehingga hanya faktor pakan saja yang jadi bahan kajian.

Formula Pakan Untuk Ikan Nila dan Proses Pengujiannya

Ada tiga formula pakan yang akan diuji pada pembudidayaan ikan nila, yaitu sebagai berikut :

Tabel 1. Formula Pakan untuk Ikan Nila

BAHAN BAKU PERLAKUAN PAKAN (%)
A (BKSf) B (BKS) C (BK)
Tepung ikan 20 20 20
Tepung kedelai 0 0 30
Tepung BKSf 30 0 0
Tepung BKS 0 30 0
Tepung dedak 22,5 22,5 22,5
Tapioka/sagu 15 15 15
Minyak ikan 2 2 2
Minyak sawit 4 4 4
Vitamin mix 2,5 2,5 2,5
Mineral mix 4 4 4
Harga per kg (Rp) 3190,- 3160,- 4240,-

BKSf = Bungkil kelapa sawit fermentasi BKS = Bungkil kelapa sawit

BK      = Bungkil Kedelai

Prosedur pembuatan pakan sebagai berikut :

  • Bahan pakan ditimbang sesuai dengan formula, kemudian diproses dengan menggunakan mesin untuk dijadikan pele
  • ·Pakan yang sudah berbentuk pelet dikemas agar tidak mudah rusak dan tidak terkontaminasi.
  • ·Pakan selanjutnya dilakukan analisa proksimat di laboratorium

Pengujian pakan dilakukan di kolam keramba jaring apung Cirata, dengan prosedur sebagai berikut:

  • Menyiapkan wadah berupa jaring ukuran (6 x 6 x 3)m sebanyak 6 buah. Tiap wadah diisi ikan nila hitam sebanyak 50 kg dengan jumlah ekor kurang lebih 1.500-2.000 ekor.
  • Untuk melihat bobot dan panjang standar individu ikan pada saat penebaran, dilakukan pengukuran dan penimbangan pada setiap wadahnya dengan cara diambil sampel sebanyak 50 ekor.
  • Jumlah pakan diberikan setiap hari sebanyak 5-3% dengan frekuensi pemberian 3 kali
  • Pemeliharaan dilakukan selama 2-3 bulan.
  • Pada akhir pengujian dilakukan pengukuran terhadap bobot ikan setiap wadah dan penghitungan jumlah ekor, serta pada setiap wadah diambil 50 ekor untuk diukur panjang dan ditimbang bobot individu. Jumlah pakan selama pengujian dicatat.

Pemberian Magot Pada Ikan Lele dan Proses Pengujiannya

Ada tiga jenis pakan yang akan dilakukan pengujian pada pembesaran ikan lele dumbo, yaitu : magot 100% (A); magot 50% dan pakan formula lele 50% (B); dan pakan formula lele 100% (C). Setiap perlakuan akan dilakukan pengulangan sebanyak dua kali.

Jumlah pemberian pakan setiap harinya sebanyak 10-3%, dengan frekuensi pemberian 3 kali, yaitu pada pkl 08.00, 11.30 dan 16.00. Penyesuaian jumlah pakan dilakukan setiap 1 minggu sekali dengan menimbang ikan setiap wadahnya secara sampling sebanyak 50 ekor.

Wadah pemeliharaan digunakan bak terpal plastik berukuran 7×2,5×0,5 m sebanyak 6 buah. Tiap wadah ditebar benih lele dumbo sebanyak kurang lebih 20 kg dengan jumlah sekitar 2000 ekor.

Untuk menghindari adanya kanibalisme oleh ikan lele yang memiliki pertumbuhan cepat sehingga ukurannya lebih besar, maka pada umur 1 bulan dilakukan pengecekan dan ukurannya yang lebih besar tersebut ditangkap, dihitung dan ditimbang serta dicatat pada setiap wadahnya.

Lama pemeliharaan hingga mencapai ukuran konsumsi diperkirakan 75 hari. Pada akhir pemeliharaan dilakukan pemanenan total, semua ikan pada setiap wadah ditimbang dan dihitung, serta diambil 50 ekor untuk melihat bobot dan panjang individu.

Parameter Uji

Dalam kegiatan ini sebagai parameter uji adalah :Bobot badan ikan akan diamati setiap pekan. Sampling dilakukan terhadap 50 ekor ikan per kolam.

Persentase penambahan berat badan ikan

dihitung dengan rumus:

((Wt2 – Wt1) / Wt1) X 100%

Wt1 : berat badan ikan di awal

Wt2 : berat badan ikan di akhir.

x     Spesific growth rate (%) dihitung dengan rumus: SGR = (log berat badan akhir – log berat badan

awal/lama hari pemeliharaan x 100) x     Survival rate (SR) dihitung dengan rumus: SR = N/No x 100%

N : jumlah ikan pada akhir uji

No : jumlah pada awal uji

Feed conversion ratio (FCR) :

¦Ft1,2 / (Wt2 – Wt1)

¦Ft1,2 adalah jumlah pakan yang diberikan selama masa pemeliharaan

Data kualitas air : Sebagai data tambahan, kualitas air selama pemeliharaan ikan akan dicatat, yaitu pada awal, pertengahan dan akhir. Parameter yang diamati adalah suhu, oksigen, pH, CO2, Alkalinitas dan NH3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengujian pakan dengan formula pakan dari limbah sawit pada ikan nila yang dipelihara dalam keramba jaring apung (KJA) selama 60 hari disajikan pada Tabel 2. Hasil analisa proksimat pada limbah sawit, limbah sawit fermentasi dan pakan dalam bentuk pelet disajikan pada Tabel 3.

Hasil pengujian pemberian magot dan pelet pada ikan lele dumbo disajikan pada Tabel 4 dan hasil

pemantauan kualitas air pada media pemeliharaan ikan nila dan lele dumbo disajikan pada Tabel 5 dan 6.

Rekayasa pemberian pakan dengan menggunakan bahan baku lokal berbasis limbah bungkil sawit pada pembesaran ikan nila di KJA, menunjukkan hasil sebagai berikut: ikan nila yang diberi pakan pelet dengan bahan baku basis bungkil kelapa sawit (BKS) relatif lebih baik dibandingkan ikan nila yang diberi pelet bahan baku berbasis bungkil kelapa sawit fermentasi (BKSf), baik dari segi derajat kelangsungan hidup, rasio konvesi pakan, laju pertumbuhan spsesifik dan persentase penambahan bobot total. Namun apabila dibandingkan dengan kontrol yaitu pakan dengan berbasis bahan baku bungkil kedelai (BK) kedua jenis pakan jauh lebih rendah (Tabel 2).

Perekayasaan ini sudah mengindikasikan bahwa limbah bungkil sawit dapat dijadikan sebagai bahan baku untuk untuk pakan ikan. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan pertumbuhan dan memberikan FCR sebesar 2,19 pada ikan nila yang diberi pakan BKS. Selain itu harga pakan jauh lebih murah dibanding dengan pakan dengan menggunakan bahan baku bungkil kedelai. Harga pakan per kg untuk pakan BKS sebesar Rp 3160,-, BKSf Rp 3190,- dan BK Rp 4240,-.

Dari hasil analisis proksimat (Tabel 3) kandungan protein bungkil sawit fermentasi menunjukkan sebesar 22,76%, bungkil sawit tanpa fermentasi 17,45%, bungkil kedelai 43,5%. Sedangkan kandungan protein sudah dlalam bnetuk peletnya adalah sebagai berikut : BKSf 23,85%, BKS 22,18% dan BK 29,34%. Dari kandungan protein ini terlihat bahwa bungkil kedelai demikian pula halnya pelet yang berbasis bungkil kedelai merupakan yang tertinggi sehingga wajar akan memberikan pertumbuhan dan FCR yang paling baik terhadap pertumbuhan ikan nila, karena yang menopang untuk

pertumbuhan sangat bergantung pada kandungan protein pakan. Bungkil sawit fermentasi dan BKSfnya kandungan proteinnya lebih baik dibandingkan dengan bungkil sawit tanpa fermentasi dan BKS, namun terhadap pertumbuhan ikan nila ternyata yang lebih baik adalah ikan nila yang diberi

pakan BKS. Hal ini dimungkinkan karena protein dalam BKSf walaupun tinggi namun sudah terhidrolisis pada proses fermentasi sehingga protein yang tinggi ini tidak cukup signifikan berpengaruh terhadap pertumbuhan, karena proteinnya kemungkinan kurang tercerna oleh ikan.

Tabel 2. Hasil Pengujian Pakan Limbah Sawit pada Ikan Nila di KJA selama 60 hari

JENIS PAKAN TANAM PANEN BOBOT

PAKAN

(Kg)

SR (%) FCR SGR (%) % W
BOBOT

(Kg)

JUMLAH

(ekor)

BOBOT

(Kg)

JUMLAH

(ekor)

BKS1 50 1500 140 1190 197.5 79.33 2.19 7.50 180.00
BKS2 50 1500 139 973 195 64.87 2.19 7.48 178.00
BS rata-rata 50 1500 139.5 1081.5 196.25 72.10 2.19 0.0749 179.00
BK1 50 1500 176 1161 210 77.40 1.67 8.06 252.00
BK2 50 1500 146 1150 190 76.67 1.98 7.61 192.00
BK rata-rata 50 1500 161 1155.5 200 77.03 1.82 0.0783 222.00
BKSf1 50 1500 105 777 175 51.80 3.18 6.68 110.00
BKSf2 50 1500 133 1287 195 85.80 2.35 7.36 166.00
BSf rata-rata 50 1500 119 1032 185 68.80 2.76 0.0702 138.00

BKSf = Bungkil kelapa sawit fermentasi         SR            = Survival Rate

BKS = Bungkil kelapa sawit                   FCR = Feed Consumption Ratio

BK = Bungkil Kedelai                             SGR = Specific Growth Rate

Tabel 3. Hasil Analisa Proksimat Limbah Bungkil Sawit, Magot dan Pelet untuk Kegiatan Perekayasaan

BAHAN BAKU/PELET KANDUNGAN PROKSIMAT (%)
AIR ABU PROTEIN LEMAK SERAT BETN
Bungkil sawit fermentasi 1.13 10.18 22,51 2.25 20.80 43.13
Pelet BKSf 12.01 23.66 20,99 11.75 8.24 23.35
Bungkil sawit 8.75 7.32 15.93 19.66 8.89 39.45
Pelet BKS 3.25 9.77 21.46 8.83 8.25 48.44
Pelet BK 8.96 13.83 26.71 8.92 9.20 32.38
Tepung Magot 11.10 14.30 40.01 14.92 19.53 0.14
Dalam bobot kering (kandungan air 0%)
Bungkil sawit fermentasi 0 0 10.30 22.76 2.28 21.04 43.62
Pelet BKSf 0 0 26.88 23.85 13.35 9.36 26.56
Bungkil sawit 0 0 8.02 17.45 21.55 9.74 43.24
Pelet BKS 0 0 10.10 22.18 9.13 8.53 50.06
Pelet BK 0 0 15.19 29.34 9.80 10.10 35.57
Tepung Magot 0 0 16.09 45.01 16.78 21.97 0.15

Tabel 4. Pemberian Magot dan Pakan Buatan pada Ikan Lele Dumbo
selama 2 Bulan (60 Hari) dalam Kolam Terpal Plastik (20 m2)

TANAM PANEN ¦ PAKAN (G) SGR
MINGGU GRAM EKOR GRAM EKOR MAGGOT

(GRAM)

PELLET

(GRAM)

SR

(%)

FCR (%) % W
Magot 1 17100 2000 77100 1695 90600 0 84.75 1.51 18.34 350.88
Magot 2 18000 2000 70000 1600 90100 0 80.00 1.73 18.10 288.89
rata-rata 17550 2000 73550 1647.5 90350 0 82.38 1.62 18.22 319.89
M + P 1 19000 2000 83000 1500 37500 37500 75.00 1.17 18.44 336.84
M + P 2 19500 2000 84500 1600 37050 37050 80.00 1.14 18.47 333.33
rata-rata 19250 2000 83750 1550 37275 37275 77.50 1.16 18.46 335.09
Pelet 1 20000 2000 62200 1047 0 70850 52.35 1.68 17.75 211.00
Pelet 2 20000 2000 82300 1501 0 72250 75.05 1.16 18.40 311.50
rata-rata 20000 2000 72250 1274 0 71550 63.70 1.42 18.08 261.25

Keterangan : M + P = Pakan dalam bentuk magot dan pelet (50%)

Hasil perekayasaan ini apabila dibandingkan dengan dengan hasil penelitian Ng et al. (2004) hasilnya belum bisa menyamai. Dari hasil proses fermentasi bungkil sawit menggunakan Trichoderma sp yang dilakukan oleh Ng et al. (2004), mampu meningkatkan kandungan protein kasar dari 17% menjadi 32%. Perbedaan ini kemungkinan dari proses fermentasi yang dilakukan oleh BBPBAT masih belum sempurna, sehingga untuk kedepan perlu dilakukan kajian dalam proses fermentasi bungkil sawit sehingga diperoleh prosedur yang standar dengan hasil yang maksimal.

Dari hasil perekayasaan pemberian magot, dibandingkan dengan pelet dan campuran magot dan pelet (Tabel 4) menunjukkan bahwa ikan lele dumbo yang diberi pakan campuran magot dan pelet, masing­masing 50% jauh lebih baik pertumbuhan dan FCR dibanding dengan magot atau pelet saja. Selanjutnya diikuti oleh ikan yang diberi pelet dibanding dengan magot saja. Adapun pelet yang digunakan adalah pakan komersial dengan kandungan protein diatas 35%, yaitu pakan udang windu.

Pengaruh positif pemberian kombinasi magot dan pelet terhadap pertumbuhan dan FCR pada ikan lele dumbo, diduga oleh peran enzim pencernaan yang terdapat dalam magot sehingg protein pakan akan semakin mudah dicerna dan diserap oleh tubuh ikan yang selanjutnya akan berdampak terhadap cepatnya pada pertumbuhan dan pakan akan semakin efisien. Kemungkinan lain akan semakin lengkapnya komposisi asam amino esensial antara yang ada dalam pelet dengan magot sehingga saling sinergi sehingga berdampak positif terhadap pertumbuhan dan FCR.

Hasil pengukuran kualitas air (Tabel 5 dan 6) di KJA untuk pemeliharaan ikan nila dan lele dumbo, mengindikasikan bahwa parameter kualitas air di KJA terutama pada bagian permukaan airnya masih dalam batas toleransi untuk pemeliharaan ikan nila. Adapun kualitas air pada pemeliharaan ikan lele dumbo mengindikasikan bahwa ikan lele dumbo mempunyai toleransi cukup tinggi pada perairan walaupun kandungan oksigen rendah dan kandungan amoniak tinggi ternyata bisa tumbuh dan hidup normal.

Tabel 5. Data Kualitas Air selama Pemeliharaan Ikan Nila di KJA

P A R A M E T E R
WAKTU PENGAMATAN SUHU

( °C )

PH O2

(mg/l)

CO2

(mg/l)

ALKALINITAS

(mg/l)

NH3

(mg/l)

NO2

(mg/l)

Awal :(d=0 m) 29 6,5 4,2 26,07 64,84 0,12 0,006
(d= 6m) 29 7 2,52 21,73 96,06 0,21 0,027
Akhir(d=0 m) 27,5 7 6,7 20,07 67,05 0,11 0,019
(d= 6m) 27 7 1,66 21,73 86,45 0,14 0,022
Baku mutu 25-30 6,5-8,5 > 4 < 12 50-300 < 1 < 0,06

Keterangan : d = kedalaman

Tabel 6. Hasil Pengukuran Kualitas Air dalam Wadah Uji Pakan Lele Dumbo dalam Kolam Terpal Plastik

PARAMETER
JAM STASIUN SUHU

(°C )

PH O2

(mg/l)

CO2

(mg/l)

ALK

(mg/l)

NH3

(mg/l)

NO2

(mg/l)

08.00 Bak terpal 25.4 7.50 4.15 24.60 112.50 0.96 0.174
24.8 7.17 1.91 13.70 81.04 0.70 0.104
24.0 6.7 0.7 11.0 49,79 2.6 0.2
Rataan 24.73 7,12 2,25 16,43 81.11 1.42 0,159
Baku mutu 25-30 6,5-8,5 > 4 < 12 50-300 < 1 < 0,06

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil kegiatan ini dapat disimpulkan sebagai berikut :

  • Pakan dengan bahan baku limbah sawit dapat digunakan untuk pembesaran ikan nila, walaupun dari segi efektifitasnya masih kalah dibandingkan dengan pakan dengan menggunakan basis bahan baku bungkil kedelai. Namun dari segi harga pakan ini jauh lebih murah sehingga dapat dijadikan sebagai pakan alternatif.
  • Proses fermentasi limbah bungkil sawit mampu meningkatkan kandungan protein kasar dari 17,45% menjadi 22,76%. Namun peningkatan protein ini tidak menjadi otomatis berdampak terhadap memcu pertumbuhan pada ikan nila yang diberi pakan dengan bahan baku bungkil sawit fermentasi.

x Pemberian kombinasi magot dan pelet masing­masing 50% memberikan pengaruh yang terbaik pada pertumbuhan dan rasio konversi pakan

pada pembesaran ikan lele dumbo yang dipelihara selama 2 bulan.

Sebagai saran adalah sebagai berikut :

  • Perlu dilakukan perekayasaan guna sempurnanya proses fermentasi limbah bungkil sawit sehingga akan diperoleh kandungan protein yang maksimal dan bahan tersebut dapat dicerna oleh ikan.
  • Untuk pembesaran ikan lele dumbo agar diperoleh pertumbuhan dan FCR yang maksimal disarankan diberi pakan kombinasi antara pelet dan magot masing-masing 50%.

DAFTAR PUSTAKA

Ng, W.K. and Chen, M.L. 2002. Replacement of soybean meal with palm kernel meal in practical diets for hybrids Asian-Africancatfish. Aquaculture 12: 67-76

Ng et al. 2004. Researching the use of palm kernel cake in aquaculture feeds. Fish Nutrition Laboratory, Universiti Sains Malaysia. Penang.


Responses

  1. terima kasih atas informasinya..
    bagaimana caranya untuk menyitir artikel ini?

    • di ambil aja bisa koq

  2. salam..
    saat ini saya menjual CD cara budidaya ikan lele yang benar, hanya dengan harga 50 ribu/CD. jika ada yang berminat silahkan hub.saya di 081-911857815 atau email rozi679@gmail.com.

    terima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: